Tuesday, November 5, 2013
Dunia itu semu
Kotor, gelap
Seperti loteng rumah nenek
Tapi aku menyukainya
Sang fajar menari-nari
Rembulan menemani
Detik, menit, jam, hari
Berapa lama lagi?
Perempuan dan laki-laki
Hati melawan logika
Apa yang kulakukan?
Aku bukan orang bodoh
Aku punya mata yang melihat
Telinga yang mendengar
Hati yang merasakan...
Berladang selapang-lapang
Mencari peraduan di balik awan
Tuhan, inikah takdir kami?
- Restananda, 5 November 2013
Labels: poem